TEKNOLOGI PENDIDIKAN SEBAGAI PENINGKATAN KINERJA
(IMPROVING PERRFORMANCE)
Di Susun untuk Memenuhi Tugas
Mata
Kuliah : Teknologi
pendidikan
Dosen
Pengampu : Ahmad Tabiin, M. Pd
Disusun oleh:
Ali
Maksum (2021115187)
Rr
Isnaini Nurul Istiqomah (2021115234)
Nur
Fatihah (2021115309)
Tuti
suryaningsih (2021115346)
Riyadhotus
Solikhah (2021115378)
`
Kelas : C
FAKULTAS TARBIYAH DAN
ILMU KEGURUAN PAI
INSTITUT AGAMA ISLAM
NEGERI
(IAIN) PEKALONGAN
2017
KATA PENGANTAR
Segala
puji bagi Allah yang telah memberikan kemudahan kepada kami sehingga kami dapat
menyelesaikan penyusunan makalah materi mata kuliah “Pengantar Komputer” yang
berjudul “TEKNOLOGI PENDIDIKAN SEBAGAI
PENINGKTAN KINERJA”. Sholawat dan salam semoga senantiasa tercurah
kepada Baginda Rasulullah Muhammad saw., beserta keluarga, sahabat dan
orang-orang yang mengikutinya hingga hari kiamat.
Makalah
ini menjelaskan tentang “TEKNOLOGI
PENDIDIKAN SEBAGAI PENINGKTAN KINERJA”. Dengan demikian materi makalah
ini diharapkan dapat membantu proses belajar mahasiswa.
Kami
menyadari bahwa dalam makalah ini masih banyak terdapat kekurangan dan masih
jauh dari kata sempurna. Oleh karena itu, kritik dan saran yang bersifat
membangun guna perbaikan dan peningkatan kualitas makalah di masa yang akan
datang dari pembaca adalah sangat berharga bagi kami.
Demikian
makalah ini kami susun, semoga makalah ini bisa menambah keilmuan dan
bermanfaat bagi kita semua serta menjadi tambahan referensi bagi penyusunan
makalah dengan tema yang senada diwaktu yang akan datang. Aamiin yaa robbal
‘alamin.
Tim
Penyusun
BAB II
PEMBAHASAN
- PengertianTeknologi Pendidikan
Istilah teknologi
berasal dari bahasa Yunani technologia yang menurut Webster Dictionary
berarti systematic treatment atau penanganan sesuatu secara sistematis,
sedangkan techne sebagai dasar kata teknologi berarti art, skilll,
science atau keahlian, ketrampilan, ilmu.
Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan
proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi
dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaaan, pengendalian diri,
kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta ketrampilan yang diperlukan
dirinya, masyarakat, bangsa, dan Negara.
Teknologi pendidikan sebagai suatu
cara mengajar yang menggunakan alat-alat teknik modern yang sebenarnya
dihasilkan bukan khusus untuk keperluan pendidikan akan tetapi dapat
dimanfaatkan dalam pendidikan seperti radio, film opaque projector, overhead
projector, TV, video, taperecorder, komputer, dan lain-lain. Dalam teknologi
pendidikan alat-alat itu disebut hardware. Alat-alat itu baru bermanfaat bila
dikaitkan dengan suatu pelajaran atau program. Program ini lazim disebut
software. Yang merupakan inti teknologi pendidikan adalah programnya yang harus
disusun melaui prinsip-prinsip tertentu. [1]
Sekarang yang menjadi persoalan sekaligus
pertanyaan bagi kita tentunya adalah bagaimana dengan eksistensi pendidikan
Islam dalam menghadapi arus perkembangan IPTEK yang sangat pesat tersebut.
Bagaimanapun tampaknya pendidikan Islam (terutama lembaganya) dituntut untuk
mampu mengadaptasikan dirinya dengan kondisi yang ada. Disamping dapat
mengadaptasi dirinya, pendidikan Islam juga dituntut untuk menguasai IPTEK, dan
kalau perlu merebutnya.[2]
Kenyataan
untuk merebut teknologi dan ilmu pengetahuan tersebut adalah sangat penting,
sebab sekarang pembangunan nasional diarahkan dengan orientasi pada teknologi
industri, dalam hal ini tak terkecuali dalam bidang pendidikan.
Prinsip yang dijadikan landasan
teknologi dalam pembelajaran :
1.
Lingkungan senantiasa berubah
2.
Jumlah penduduk semakin bertambah. Mereka semua perlu belajar, dn
belajar itu berlangsung seumur hidupdan dimana saja.
3.
Sumber-sumber sedekala semakin terbatas, Karena itu harus
dimanfaatkan sebaik mungkin dan seoptimal mungkin. Kecuali itu harus pula diciptakan
sumber baru, teknologi baru, dan didayagunakan sumber yang masih belum
terpakai.
4.
Hak setiap pribadi untu berkembang semaksimal mungkin, selrs dengan
perkembangan lingkungan dan masyarakat.
5.
Masyarakat berbudaya teknologi, yaitu bahwa teknologi merupakan
bagian yang tertanam dan tumbuh dalam setiap masyarakat dengan kadar yang
berbeda.[3]
Menurut Prof. Dr. Ing. BJ. Habibie, ada lima
prinsip yang harus diikuti untuk mencapai penguasaan IPTEK yaitu:
1.
Melakukan
pendidikan dan pelatihan sumber daya manusia (SDM) dalam bidang IPTEK yang
relevan dengan pembangunan bangsa.
2.
Mengembangkan
konsep masyarakat teknologi dan industri serta melakukan usaha serius dalam
merealisasikan konsep tersebut.
3.
Adanya
transfer, aplikasi dan pengembangan lebih jauh dari teknologi yang diarahkan
pada pemecahan masalah-masalah nyata.
4.
Kemandirian
teknologi, tanpa harus bergantung ke luar negeri.
5.
Perlu adanya
perlindungan terhadap teknologi yang dikembangkan di dalam negeri hingga mampu
bersaing di arena internasional.
Sementara itu pendidikan Islam yang
tugas pokoknya menelaah dan menganalisis serta mengembangkan pemikiran,
informasi dan fakta-fakta kependidikan yang sama sebangun dengan nilai-nilai
ajaran Islam dituntut harus mampu mengetengahkan perencanaan program-program
dan aktivitas-aktivitas operasional kependidikan, terutama yang berkaitan
dengan pengembangan dan pemanfaatan IPTEK sebagaimana digambarkan diatas.
2. Teknologi
Pendidikan dalam Pengembangan Pendidikan Islam
Pendidikan Islam mempunyai sesuatu
kekuatan yang sangat signifikan dipertahankan atau dikembangkan. Hal ini
mungkin dapat dilihat dari tataran filosofis atau konseptual dan pengalaman
selama ini dari lembaga-lembaga pendidikan Islam yang dari waktu ke waktu telah
mampu tumbuh di tengah-tengah dinamika masyarakat dan memberikan kontribusi
sebagai berikut:
1. Motivasi
kreatifitas anak didik ke arah pengembangan IPTEK itu sendiri, dimana
nilai-nilai Islam menjadi sumber acuannya.
2. Mendidik
keterampilan, memanfaatkan produk IPTEK bagi kesejahteraan hidup umat
manusia pada umumnya dan umat Islam pada khususnya.
3. Menciptakan
jalinan yang kuat antara ajaran agama dan IPTEK, dan hubungan yang akrab
dengan para ilmuwan yang memegang otoritas IPTEK dalam bidang masing-masing.
4. Menanamkan
sikap dan wawasan yang luas terhadap kehidupan masa depan umat manusia melalui
kemampuan menginterpretasikan ajaran agama dari sumber-sumbernya yang murni dan
kontekstual dengan masa depan kehidupan manusia.[4]
A. Teknologi Kinerja
Teknologi kinerja (human
performance technology)
adalah latihan terkait pendidikan teknologi pembelajaran yang mulai mencuat disekitar akhir tahun
1980-an. Praktisi di Amerika Serikat sebelumnya sudah berdebat panjang lebar
tentang penerapan prinsip teknologi pendidikan/pembelajaran dilembaga atau
organisasi non kependidikan. Kebutuhan pembinaan kompetensi di semua lini di
organisasi sangatlah
tinggi. Namaun banyak aspek yang perlu dipertimbangkan dalam menerapkan konsep
teknologi pendidikan/pembelajaran. Adopsi ilmu manajemen secara umum, serta
psikologi industri sangat membantu teknologi kinerja.
- Konteks Teknologi Kinerja
1.
Makna
Human (Manusia)
Istilah ini merujuk pada konsep
kinerja keseluruhan dalam suatu organisasi. Secara struktur, dalam organisasi
terdapat kinerja manusia, kinerja organisasi, kinerja mesin, piranti atau
komputer. Setiap kinerja berdampak terhadap peningkatan mutu oraganisasi secara
keseluruhan. Sebagai contoh, Indonesia mengalami kemunduran dalam dunia olahraga
bulu tangkis. Kalimat ini merujuk pada kinerja bulu tangkis Indonesia. Kata
Indonesia dalam pernyataan ini bukanlah arti dari Indonesia sebagai teritori,
Negara kepulauan, atau penduduk yang berjumlah lebih dari 200 juta orang. Makna
Indonesia di sini adalah para pemain bulu tangkis, terdiri dari beberapa orang
pemain dan pengurusnya yang mewakili Negara Indonesia. Tim Nasional bulu
tangkis ini bertanding atas nama rakyat dan negara. Untuk itu, label Indonesia
yang mereka sandang. Prestasi mereka sama dengan prestasi Indonesia dalam
pengertian teritori dan penduduknya. Dalam hal ini, hanya tim tersebut yang
berjuang dan memperlihatkan kinerja mereka.
2. Makna Kinerja.
Sesuatu yang dilakukan oleh
karyawan, termasuk didalamnya adalah aspek kognitif atau berpikir, sikap,
sisitem nilai yang dianutnya, keputusan, cara pandang, dan berinteraksi. Dalam
bukunya, pershing, et al, menyebutkan bahwa tenaga terkait dengan
kompetensi (keahlian, kemampuan, dan pengetahuan). Bagi organisasi ISPI,
rumusan kinerja sederhana, menyangkut kegiatan dan hasil yang terukur. Rothwell
dan kazanas, menyatakan pendapat mereka tentang kinerja secara menyeluruh.
Pandangan mereka mencakup pencapaian seseorang karena ia telah menunjukan
perilaku, keterampilan, sikap, sekaligus pengetahuannya. Selain itu, mereka
menjelaskan perbedaan kinerja organisasi dan mesin atau peralatan.
3. Makna Teknologi.
Definisi teknologi yang dirumuskan
dalam lingkup teknologi kinerja tidak berbeda dengan rumusan teknologi secar
umum, atau dalam cakupan teknologi pendidikan. Teknologi terkait dengan
prosedur, teknik serta temuan ilmiah yang dihasilka melalui serangkaian
penelitian. Dan berdamapak pada penyelesaian masalah.
4. Workplace
(tempat bekerja) dan organizations (organisasi/lembaga).
Jika selama ini teknologi pendidikan/pembelajaran
sering dikaitkan dengan lembaga pendidikan/sekolah, maka teknologi kinerja
terkait dengan pemberdayaan melalui proses belajar di organisasi atau tempat
bekerja seseorang. Teknologi kinerja membahas masalah belajar dan
penyelenggaraannya bagi karyawan/pekerja dengan pendekatan secara individu atau
tim. Konsep belajar untuk karyawan ini mendorong para ahli untuk mengadopsi
prinsip belajar orang dewasa serta psikologi industri. Tentu saja dengan
penerapan dua teori ini menyebabkan dua pertimbangan dan keputusan menentukan
model, strategi, media pembelajaran atau assement belajar menjadi
berbeda dibandingkan dalam menentukan model, strategi, media pembelajaran, dan
assement bagi peserta didik di sekolah.
Selain itu, pengaruh sifat dan
budaya setiap organisasi terlihat pula dalam menentukan pilihan pembelajaran.
Teknologi pembelajaran sedah tentu perlu menyadari dan mengimplementasikan hal
ini dalam memilih pendekatan yang cocok bagi kliennya.
5. Karakteristik Teknologi Kinerja.
Rumusan teknologi kinerja yaitu:
a.
Sistematis:
mempunyai aturan, tata tertib, dan teratur dalam pelaksanaannya.
b.
Sistem:
memandang kinerja dan prestasi seseorang di lembaga/ organisasi sebagai suatu
sistem, yang dianalisis berdasarkan komponen didalamnya.
c.
Berdasarkan
teori: sebagian pakar berpendapat bahawa teknologi kinerja berevolusi dari
refleksi teknologi pembelajaran/pendidikan yang berprofesi di bisnis dan
industri, melakukan penyesuaian pemikiran dan pemecahan masalah berdasarkan
lingkungan kinerja mereka.
d. Terbuka untuk berbagai pendekatan:
penyeselaian masalah atau intervensi tidak berpihak atau menganut suatu media
apapun, melainkan manfaat berbagai sumber yang tepat dan sesuai.
e. Terpusat pada kemampuan seseorang dan
sistem nilai: teknologi kinerja menelusuri teknik, cara, dan sumber yang tepat
untuk meningkatkan mutu kinrja seseorang atau memberdayakan agar ia dapat
berprestasi dan sukses, melalu sistem nilai yang berlaku di organisasi dan
masyarakat umumnya.
Upaya
menyesuaikan dengan organisasi menorong seorang teknolog kinerja untuk terbuka
dan bekerja sama dengan semua pihak dan mengkaji seluruh elemen organisas
seperti seleksi dan rekrutmen, insentif, peraturan dan kebijakan, dan
sebagainya. Menekan atau efiiensi biaya pelatihan serta penyelenggaraan program
pelatihan yang lebih selektif ini menjadi alasan keberadaan teknologi kinerja
di organisasi, terutama organisasi yang berorientasi pada keuntungan. [5]
A.
Meningkatkan Kinerja
Menurut
Association for Educational Communications and Technology atau disingkat AECT
(2004), Teknologi Pendidikan (TP) didefinisikan sebagai studi dan praktek etis
dalam upaya memfasilitasi pembelajaran dan meningkatkan kinerja dengan cara
menciptakan, menggunakan/memanfaatkan, dan mengelola proses dan sumber-sumber
teknologi yang tepat, Jelas, tujuan utamanya yaitu untuk:
a. Memecahkan
masalah belajar atau memfasilitasi pembelajaran agar efektif, efisien dan
menarik.
b. Meningkatkan
kinerja.
Dalam teknologi pendidikan improving
performance atau diterjemahkan sebagai meningkatkan kinerja lebih sering
merujuk pada suatu pernyataan mengenai keefektifan; bisa merupakan cara-cara
yang diharapkan membawa hasil yang berkualitas, produk yang diharapkan dapat
menciptakan proses belajar yang efektif, dan perubahan-perubahan kompetensi
yang dapat diterapkan di dunia nyata. Makna belajar itu pun merupakan suatu
rangkaian proses interpretasi berdasarkan pengalaman yang telah ada,
interpretasi tersebut kemudian dicocokan pengalaman-pengalaman baru.
Efektif sering kali berdampak pada
efisiensi, yaitu hasil yang dicapai dengan penggunaan waktu, tenaga, dan biaya
seminim mungkin. Namun apa yang dimaksud dengan efisien sangatlah tergantung
pada tujuan yang hendak dicapai. Efisiensi dalam gerakan pengembangan
instruksional sistematis didefinisikan sebagai menolong peserta didik mencapai
tujuan-tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya yang diukur dengan evaluasi
terstruktur (tes, ulangan, dsb). Oleh sebab itu proses kegiatan belajar dilakukan
dengan tahapan-tahapan yang sistematis. Pandangan ini berbeda dengan pendekatan
cara belajar konstruktivis. Cara pandang konstruktivis menekankan pada posisi
peserta didiklah yang menentukan tujuan mereka sendiri dan bagian apa yang
hendak dipelajari.
Belajar yang
benar dan berhasil adalah apabila ilmu pengetahuan dapat dipahami secara
mendalam, dialami, dan diterapkan untuk mengatasi masalah-masalah di dunia
nyata, bukan berdasar hasil ujian atau ulangan. Konstruktivisme cenderung
mempersoalkan perancangan lingkungan belajar daripada pentahapan kegiatan
pembelajaran. Lingkungan belajar ini merupakan konsteks yang kaya, baik dari
landasan pengetahuan, masalah yang otentik, dan perangkat yang digunakan untuk
memecahkan masalah. Itulah sebabnya efisiensi tergantung pada apa tujuan yang
hendak dicapai dalam proses belajar.
Sementara kata performance
atau kinerja merujuk pada dua hal yang saling berkesinambungan:
a.
Kemampuan peserta didik untuk
menggunakan dan mengaplikasikan kompetensi baru yang telah dicapainya; bukan
sekedar mendapat pengetahuan kemudian stagnan, namun pengetahuan itu
meningkatkan kompetensi dan kompetensi tersebut dapat diaplikasikan secara
nyata.
b.
Selain menolong peserta didik memiliki
kompetensi yang lebih baik, alat dan ide-ide teknologi pendidikan dapat
membantu para guru maupun perancang pembelajaran menjadi tenaga pendidik yang
lebih mumpuni. Hasilnya
mereka dapat menolong berbagai institusi mencapai tujuan dengan lebih baik.[6]
DAFTAR PUSTAKA
http://jadiwijaya.blog.uns.ac.id/2010/06/06/meningkatkan-kinerja-dalam-konteks-teknologi-pendidikan/
diakses pada hari rabu, jam 13:35, tanggal 1 maret 2017.
Nasution. 2012. Teknologi Pendidikan. Jakarta: PT Bumi
Aksara.
Salma
Prawiradiraga, Dewi. 2012. Wawasan Teknologi Pendidikan. Jakarta:
Kencana Prenada Media Group.
Setijadi, 1997. Definisi Teknologi Pendidikan. Jakarta: PT
RajaGrafindo Persada.
Soejoeti, 1998 al-Islam
dan IPTEK.Jakarta: Raja Grafind.
Yusufhadi Miarso, 2004.
Menyemai Benih Teknologi Pendidikan,
Jakarta: Prenada Media
[1] Nasution, Teknologi Pendidikan, (Jakarta: PT Bumi Aksara, 2012),
hlm. 2.
[3] Yusufhadi
Miarso, Menyemai Benih Teknologi
Pendidikan, (Jakarta: Prenada Media, 2004), hlm.193.
[5] Dewi Salma Prawiradilaga, Wawasan Teknologi Pendidikan, (Jakarta:
Kencana, 2012), hlm. 161-165.
[6] http://jadiwijaya.blog.uns.ac.id/2010/06/06/meningkatkan-kinerja-dalam-konteks-teknologi-pendidikan/
diakses pada hari rabu, jam 13:35, tanggal 1 maret 2017.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar